| Pic: OPM/TPNPB PANIAI |
Victor Yeimo
Hidup hanya selembar kertas tipis belaka, ditulis dengan peluh darah dan debu tanah, keluh dan penuh bayang ilusi. Dia bukan takdir tapi berwujud misteri. Tampak, sebagian insan menuju jalan yang benar hingga kekokohan nalurinya genggam idealisme dan sebagian nafas berbelok pada jalan dusta mencari dunia fatamorgana.
Keluh terpendam dipalung kehidupan yang dihengkang serdadu tirani. Penindihan semakin tua di antara muatan kekejian dan kebiadaban yang tua. Insan yang gerah hati yang meronta pun nafasnya di buntut, hingga berujung di kirimkan ke pusara dan lain ke bui oleh serdadu dan predator. Pada persada negeri koloni, hanya pendusta, penghianat, penceboh dan pembudak mampu bersambung kehidupan.
Ketika tampak, doa-doa insan tertindih, selalu berujung terborgol pada bedil serdadu kolonial yang tak pernah sampai pada pintu bala serdadu Ilahi yang semawi. Begitu pula nyanyian-nyanyian insan koloni kian ringkih di bilas cakar hukum dan dibilas tangan jahil, yang selalu hambar pada permukaan bumi manusia dan tak pernah keadilan bala tentara surgawi mengiringi bersama simponi surganya.
Ini, doa dari kisah kaum heroik di persada bangsa tertindas. Insan patriot gerylia di hutan dikejar dan insan patriot di kota di buntut, serta insan lain jiwanya tersembelih kegetiran dengan kebanyakan hadirnya militer. Kau bahagiakah, jika hidup bakti pada bangsa jahanam dan bengis itu..?
Ruang hidup tak ada maknanya, bila insan heroik di buntut dan digiring pada bui. Sehelai nafas tiada artinya, jika sekali hembusan nafas saja di pasung dengan pasal-pasal tirani. Pijakan kaki pun tak mampu ketika yang di jumpai tiap sisi dan sudut hanya serdadu. Kenyataan penindasan di persada koloni tersalib di atas bedil yang dipaku oleh hukum-hukum kolonial.
Bahagiakah dikau, kau akan diam dan pasti terdiam bila kebenaran bersemayam. Tapi, tidak mau diam dan pasti tidak pernah diam andai keadilan terbungkam. Tak ada yang bisa disembunyikan oleh seorang manusia yang sedang tertindas kecuali memberontaknya.
Bumi Koloni, 01/06/21
Giyai Aleks


Tidak ada komentar:
Posting Komentar